Lorem Ipsum

Jumat, 31 Desember 2010 | By: EurikA AlfianA

Studi Komparatif Mulla Sadra Dan Muh Iqbal

BAB I
PENDAHULUAN[1]
Makalah ini akan membandingkan tiga tokoh fenomenal sekaligus. Suhrawardi al-Maqtul, Mulla Sadra, dan Muhammad Iqbal, dari sisi pemikirannya tentang metafisika, epistemologi, kenabian dan moral. Namun sebelum membicarakan pemikiran mereka lebih jauh, terlebih dahulu makalah ini akan menampilkan biografi ketiga tokoh tersbut  secara singkat. Karena dengan mengenal mereka terlebih dahulu, akan memudahkan kita dalam memahami pemikirannya. Namun, perlu difahami juga bahwa pengangkatan mereka dalam makalah ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengagungkan atau mengkultuskan mereka, karena tidak ada seorangpun yang boleh diagungkan dan dikultuskan, juga tidak didasari fanatisme kelompok (‘Ashabiyyah), karena fanatisme kelompok jelas telah diharamkan Allah swt.
Tulisan mengenai biografi mereka juga bukan untuk menumbuhkan sikap bahwa semua yang berasal dari mereka adalah pasti benar, karena mereka adalah manusia biasa, bisa benar dan bisa salah; bukan nabi/ Rasul yang ma’sum.
Namun demikian, bukanlah sikap bijaksana jika hanya karena ketidak sukaan sebagian kalangan terhadap Mulla Shadra, Suhrawardi al-Maqtul dan Muhammad Iqbal, mendorong orang untuk bersikap apriori, bahkan buruk sangka dan serta merta menolak setiap pemikiran yang digagas mereka. Dalam hal ini, akan lebih bijaksana jika kita mengingat kembali pesan Ali bin Abi Thalib k.w, yaitu:
Janganlah engkau menilai kebenaran itu dari orangnya, tetapi kenalilah kebenaran itu, maka engkau akan mengenal orang yang mengembannya.
Karena itu, semua pemikiran yang digali oleh mereka, sebagaimana yang digali pemikir lain, harus tetap didudukan sebagai pemikiran dan hukum yang mesti kita kembalikan pada dalil-dalil syariat. Dalam kerangka berpikir semacam itulah, tulisan mengenai biografi dan pemikiran Suhrawardi al-Maqtul, Mulla Sadra, dan Muhammad Iqbal dipaparkan.
Aliran Iluminasionis (Isyrâqi) ini didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi al-Maqtul (w.1191). Walau meninggal dalam usia yg relatif muda, yaitu 35 tahun, namun ia telah menyusun beberapa karya yang signikan, seperti Kitab Al-Masy_ari wa Al-Mutharahat; Al-Talwîhat dan Al-Muqawwamât. Tetapi yang paling besar, berpengaruh dan orisinal adalah Hikmah Al-Isyrâq, yang telah telah menjadi kitab utama, di atas mana filsafat Isyraqî dibangun. Kitab ini telah mendapat banyak komentar dari murid-muridnya, seperti Al-Sahrazuri dan Quthb Al-Din Al-Syirazi, atau simpatisannya seperti Ibn Kammunah, seorang filosof Yahudi.
Ada anggapan bahwa sejarah filsafat Islam secara praktis berakhir bersaman dengan kematian Ibnu Rusyd. Setelah itu, sampai terjadinya invasi Mongol, dunia Islam hanya menghasilkan para komentator, tanpa cetusan-cetusan kreatif dan orisinil. Namun, anggapan itu dipatahkan oleh kenyataan bahwa sampai periode Safawi, kreatifitas intelektual Islam mengalami perkembangan yang begitu pesat dan mencapai kematangannya di kalangan orang-orang Syi’ah Persia. Pada batas tertentu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa jenis filsafat yang khas Islami justru baru berkembang setelah Ibnu Rusyd, bukan sebelumnya. Tipe filsafat yang khas ini dikenal dengan sebutan Hikmah (Arab) atau Hikmat (Persia), yang dalam bahasa Barat diterjemahkan sebagai Theo-Sophia (Yunani) atau theosophy (Inggris).
Tradisi filsafat hikmah yang berkembang di Persia (Iran) tersebut menghasilkan sejumlah pemikir terkemuka dan karya-karya yang bernilai tinggi. Salah satunya adalah Shard Al-Din Al-Syirazy atau lebih dikenal dengan sebutan Mulla Shadra.
Beliau muncul dengan orisinalitas mengagumkan saat filsafat Muslim banyak dituduh sekedar mengekor filsafat Plato dan Aristoteles. Filsafatnya melahirkan aliran tersendiri: Al-Hikmah Al-Muta’aliyah. Aliran yang menjadi objek skrutinisasi intelektual para filosof baik Barat maupun Timur. Sebuah opus magnum yang tak terkira sumbangsihnya bagi khazanah intelektual Islam.
Saat dunia Islam semakin terpuruk dalam jurang mistisisme dan konservatisme yang anti perubahan, lahirlah seorang filosof-penyair: Sir Muhammad Iqbal. Kemunculan Iqbal ibarat mekarnya kuncup teratai di tengah kesunyian telaga. Beliaulah yang berhasil merajut dengan cantiknya khazanah pemikiran Barat dan Islam guna menyegarkan kembali dunia pemikiran Islam. Iqbal tidak terapologi dihadapan pemikiran Barat, namun tidak juga melepaskan baju keislamannya.
Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kita percikan pemikiran untuk direfleksikan secara kritis dan mendalam, sehingga menambah keimanan kita sebagai Muslim.
BAB II
PEMBAHASAN
BIOGRAFI
A. Suhrawardi al-Maqtul (Pendiri Aliran Illuminasionis [Isyraqi])
Syaikh Syihabuddin Abul Futuh Yahya Suhrawardi yang lebih dikenal sebagai Syaikh Isyraq, Syihab al-Maqtul, Syaikh al-Maqtul, founding father Filsafat Isyraq dan merupakan salah seorang filosof besar Islam pada abad ke 6 Miladi (587 H). Ia lahir pada tahun 549 H/1154 M di kota Suhraward bagian barat laut Iran. Setelah menyelesaikan studi ilmu filsafat dan ushul fiqih di Maragah, dari Majduddin Jili yang juga merupakan guru Fakhrurazi, dan di Isfahan, ia melewati hidupnya beberapa tahun di barat daya Anatolia. Setelah itu ia pindah ke Halab (Aleppo, Suriah) tahun 579 H/1183 M. Di tempat ini ia mengajar dan menjadi teman gubernur, al-Malik al-Zahir al-Ghazi (putra Salahuddin Al-Ayyubi).
Sebagian orang memandang Suhrawardi sebagai seorang ulama yang memiliki karamah dan keutamaan. Dan sebagian lain mengklaimnya sebagai kafir dan musyrik. Dikatakan bahwa alasan utama kesyahidan dia adalah karena dialognya tentang “akhir kenabian”. Dan boleh jadi juga lantaran alasan politis. Para peneliti kontemporer berkeyakinan bahwa “wilayah” sebagai pokok akidah Suhrawardi dan menurut dia walaupun kenabian telah berakhir, namun “wilâyah (kepemimpinan hakiki pasca Nabi)”, yang sebagaimana diyakini oleh kaum Syiah, terus dan tetap berlanjut.[2]
Dikabarkan konon pengetahuan filsafat Suhrawardi begitu mendalam. Bahkan kitab Thabaqat al-Athibba menyebutkan Suhrawardi sebagai salah seorang tokoh zamannya hikmah. Ia begitu mengusaai ilmu-ilmu filsafat, begitu memahami ushul fiqh, begitu cerdas pikirannya dan begitu fasih ungkapan-ungkapannya.[3]
Namun, kepiawaian Suhrawardi mengluarkan pernyataan doktrin esoteris yang tandas dan kritik yang tajam terhadap ahli-ahli fikih menimbulkan reaksi keras yang dimotori oleh Abu Bakarat al-Baghdadi yang anti-aristotelian. Akhirnya pada tahun 587H / 1191M atas desakan fuqaha kepada pangeran Malik al-Zahir Syah anak sultan Salahuddin al-Ayyubi al-Kurdi yang sangat membutuhkan kaum fuqaha uyntuk menghadapi tentara salib, suhrawardi diserat ke penjara, menghantarkannya kematiannya di usia 38 tahun.[4]
Mulla Sadra (Sosok Filosof Cerdas nan Agamis)
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazy, yang bergelar ‘Shadr al-Din’ dan lebih popular dengan sebutan Mulla Shadra atau Shard al-Muta’alihin, dan dikalangan murid-murid serta pengikutnya disebut ‘Akhund’. Dia dilahirkan di Syiraz sekitar tahun 979-80 H/ 1571-72 M dalam sebuah keluarga yang cukup berpengaruh dan terkenal, yaitu keluarga Qawam. Ayahnya adalah Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazy salah seorang yang berilmu dan saleh, dan dikatakan pernah menjabat sebagai Gubernur Propinsi Fars. Secara sosial-politik, ia memiliki kekuasaan yang istimewa di kota asalnya, Syiraz.[5]
Salah satu prinsip yang membuat penulis begitu simpatik pada sosok Mulla Shadra adalah ketika ia memposisikan Al-Quran pada tatanan nomor wahid di atas akal dan mukasafah dalam berfilsafat, hal ini juga diakui oleh Sayyid Mohammad Khamene’i. Menurutnya, Shadra benar-benar memberikan porsi besar terhadap Al-Quran, hal ini bisa dilihat ketika Shadra memunculkan salah satu karya tafsirnya, karena selain filsuf Shadra juga pernah menjadi seorang mufasir, meskipun identitas yang pertama lebih identik dengannya. Selain itu penulis juga menemukan lebih dari 1000 ayat al-Quran dan 700 hadits terkutip rapi dalam al-Asfar al-Arba`ah. Seperti yang kita ketahui, corak sebelum abad ke-6 H, mayoritas filosof lebih mengedepankan aspek rasio tinimbang intuisi gnostik-sufistik. Sedangkan Mulla Shadra berbeda, dia berfilsafat dengan Al-Quran sebagai pedoman terkuat dalam pencarian kebenarannya. Semua kembali pada Al-Quran, sehingga ketika rasio dan muksyafahnya bertentangan, maka kebenaran tetap berada pada Al-Quran.
Mulla Shadra sosok filosof religius. Filsafatnya memberikan pengaruh besar di negara Iran. Bahkan Filsafatnya hingga saat ini menjadi ideologi negara tersebut. Nilai-nilai keislamannya seakan tak pernah luntur. Sampai akhirnya ia sakit keras sekembalinya dari haji pada kali ketujuh. Saat itulah sejarah hidup seorang Mulla Shadra berakhir, tepatnya tahun 1640 M di Basrah. Namun bukan berarti pemikirannyapun ikut tiada.
Dua generasi penerusnya; adalah Abd al-Razzak Lahiji dan Mulla Muhsin al-Faidh al-Kasyani yang berhasil merepresentasikan konsep-konsep Shadra. Beberapa karya monumental yang sampai saat ini tetap mendapat perhatian cukup besar para cendekiawan; adalah al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Aqliyah al-Arba’ah, al-Syawahid al-Rububiyyah fi al-Manahij al-Sulukiyyah, dan al-Mabda’ wa a- Maad.[6]
C. Muhammad Iqbal (Penyair Pembangun Identitas Islam)
Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot pada tanggal 9 November 1877.  Sialkot adalah sebuah kota peninggalan Dinasti Mughal India yang sudah  lama pudar gemerlapnya. Ia terletak beberapa mil dari Jammu dan Kasymir, suatu kawasan yang kelak terus-menerus menjadi sengketa antara India dan Pakistan.
Kakeknya Iqbal bernama Syaikh Rafiq. Ayahandanya Syaikh Nur Muhammad memiliki kedekatan dengan kalangan sufi, ia dijuluki kawan-kawannya dengan sebutan “sang filosof tanpa guru”. Ibunda Iqbal Imam Bibi, juga dikenal sangat religius. Ia memberikan pendidikan dasar dan disiplin keislaman yang kuat kepada kelima anaknya, salah satunya Iqbal.
Di kota perbatasan Punjab, Iqbal menghabiskan masa kecilnya. Ketika kehidupan Iqbal sudah mulai memasuki usia dewasa ia curahkan seluruh waktunya di kota Lahore  dengan kehausannya terhadap Ilmu pengetahuan. Ia kuliah di perguruan tinggi terkemuka di kota tersebut.
Iqbal bebar-benar menunjukan pancaran kegeniusannya dengan banyaknya prestasi yang raih,  ia berhasil meraih gelar megister  di bidang filsafat, ia juga menjadi pengajar dan sempat menjadi seorang pengacara. Namun ternyata, perannya sebagai professor dan pengajar di Universitas membuat ia merasa terkekang. Dan akhirnya ia kemudian melanjutkan studinya ke Eropa yaitu di London dan Jerman.
Dalam sebuah kesempatan simposium  puisi (masya’ara)[7] di Bheti Bate, pusat kegiatan intelektual dan budaya, yang merupakan gerbang kota Lahore. Iqbal ikut membacakan sebuah lirinya di hadapan para penyair terkemuka dan para penyair muda berbakat. Ketika itu salah seorang penyair urdu terkemuka Mirza Arsyad Gargoni berseru “Iqbal ! syair yang indah untuk usia semuda engkau”.
“Ia adalah seorang penyair yang sulit dicari tandingannya, namanya dikenal di berbagai penjuru, ungkapannya tetap abadi, usahanya bagi bangsa dan negerinya pantas disejajarkan dengan tokoh terbesar India, kematiannya merupakan kehilangan besar bagi rakyat, Muslim khususnya.”[8]
Dalam kesempatan lain, Iqbal menjadi tulang punggung dalam bidang politik pada partai Liga Muslim India, dan pada tahun 1930, ia menjadi presiden liga Muslim India, serta menjadi orang yang pertama kali menyeru di Pakistan. Dan kemudian ia dijuluki bapak Pakistan.[9]
Demikianlah perjalanan pendidikan iqbal sebagai seorang intelektual serta banyaknya waktu Iqbal habiskan dengan menulis syair dan buku yang mewakili kegundahan dan keresahan hatinya melihat realitas yang ada pada lingkungannya. Dari ukiran penanya itulah kita bisa mengenal Iqbal. Akhirnya Iqbal meninggal dunia pada tanggal 12 April 1938 M akibat penyakit yang dideritanya.
STUDI KOMPARATIF KONSTELASI PEMIKIRAN
Epistemologi Dalam Perspektif
Suhrawardi mengkritik logika Aristoteles. Menurut Aristoteles, definisi adalah genus plus diferensia. Tetapi Suhrawardi berpendapat bahwa atribut khusus hal yang terdefinisikan, yang tidak dapat dipredikatkan kepada hal lain, mengakibatkan kita tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu.
Jika dilihat dari sejarahnya, sepertinya Suhrawardi adalah seorang yang moderat, dia melihat sisi baik dari semua golongan dan agama. Hal itu terbukti dari filsafat illuminasi-nya yang merupakan hasil dialog spiritual dan intelektual dengan tradisi-tradisi dan agama-agama lain.
Pemikiran epistemologi Suhrawardi tampaknya tidak berbeda dengan tokoh-tokoh filosof lain, ia percaya bahwa alat indrawi dan pancaran ilahi menjadi sumber ilmu pengtahuan. Dalam hal ini, Suhrawardi menyebutnya dengan pengetahuan hushuli dan hudhuri (ilmu laduni).
               Bagi Suhrawardi, tujuan yang ingin dicapai dalam epistemologi illuminasi adalah jenis pengetahuan yang diketahui melalui kepastian (yaqin), dengan menggabungkan antara pengetahuan dengan esensi semata dan pengetahuan dengan bentuk-bentuk abadi yang tidak berubah.
Bagi Mulla Shadra yang juga meyakini adanya titik temu antara filsafat dan agama sebagai kesatuan kebenaran yang dapat dibuktikan melalui mata rantai histories yang berkesinambungan dari Adam dan Ibrahim, orang-orang Yunani, para sufi Islam (mengalami puncaknya pada Ibn ‘Arabi), dan para filsuf.
Bangunan epistemologi Mulla Shadra berkaitan erat dengan idenya tentang Wahdah (unity), ashalah (principality), tasykik (gradation), dan ide perubahan substansi (harka/istihala jauhariyah).
Jika kita membandingkan epistemologi Suhrawardi dengan Mulla Shadra, maka akan kita lihat penasfiran cerdas Mulla Shadra, ia menjelaskan dalam kitab Mafatih al-Ghaib tentang Hikmah al-Muta’aliyah bahwa hakikat hikmah diperoleh dari ilmu laduni (Hudhuri), untuk mencapai makrifat. Mulla Shadra menambahkan argumentasi Suhrawardi yaitu dengan tiga sumber: argumentasi rasional (akal), penyingkapan (Mukasyafah) dan al-Quran dan al-Hadits.
Mulla Shadra, dengan pengalaman mistis-eksotatik nya, menganggap iluminasi dan wahyu sebagai sumber vital pengetahuan disamping penggunaan rasio. Mulla Shadra menjelaskan bahwa antara ketiga dasar makrifat tersebut harus sejalan satu sama lain dan tidak bertentangan.
Lain halnya dengan Muhammad Iqbal yang hidup lebih modern dari keduanya (Suhrawardi dan Mulla Shadra), Iqbal menegaskan bahwa kita perlu menyelidiki kembali kebangkitan Islam serta menganalisis ulang apa sesungguhnya yang dipikirkan Eropa, dan merevisi ulang pemikiran sehat dengan penafsiran dalam bingkai kaidah berpikir yang tersurat dan tersirat di dalam kandungan Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Artinya kita boleh saja berpikir dengan semangat filsafat, yang menurut Iqbal adalah semangat penelaahan secara bebas. Segala macam ketentuan diragukannya. Rekaan-rekaan pikiran manusia yang tidak kritis diikuti sampai ke tempat-tempat tersembunyi, tetapi haruslah berkesudahan dengan menolak atau menerima dengan hati terbuka bahwa akal mempunyai kelemahan untuk sampai kepada kebenaran tertinggi. Pada tataran ini hidup kita membutuhkan satu kata “iman”. Kesimpulan epistemologi M. Iqbal adalah penggunaan rasio yang sesuai dengan wahyu.
Metafisika Dalam Perspektif
Inti dari ajaran hikmat al-Isyraq al-Suhrawardi adalah tentang sifat dan pembiasan cahaya. Cahaya dimaksudkan oleh Suhrawardi bersifat immaterial dan tidak bisa didefinisikan, karena sesuatu yang “terang” tidak memerlukan definisi, dan cahaya ialah entitas yang paling terang di dunia. Bahkan cahaya menembus semua susunan entitas, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, sebagai suatu komponen yang esensial daripadanya. Penerangan cahaya orisinil dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Cahaya Abstrak (misalnya intelek, universal maupun individual).
2. Cahay Aksiden (Atribut), yaitu cahaya yang mempunyai suatu bentuk, dan mampu menjadi atribut dari sesuatu selain dirinya sendiri.
Cahaya ini, menurutnya, tidak dapat didefinisikan karena merupakan realitas yang paling nyata dan yang menampakkan segala sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang masuk ke dalam komposisi semua substansi yang lain. Segala sesuatu selain “Cahaya Murni” adalah zat yang membutuhkan penyangga atau sebagai substansi gelap. Objek-objek materil yang mampu menerima cahaya dan kegelapan sekaligus disebut barzakh.
Ketika kita mempelajari teori ‘gerak’ di alam, bahwa alam ini bergerak dan pasti ada sebab pertama yang menggerakan, Maha Dahsyat yaitu Tuhan. Dalam metafisika Suhrawardi kita juga mengenal dengan manifestasi cahaya, bahwa cahaya yang mampu menembus semua entitas dalam kehidupan ini memerlukan cahaya pertama yang menjadi sebab lain di luar dirinya.
Pemahaman metafisika Mulla Shadra bisa difahami dari konsepnya tentang wujud. Pada awalnya, Mulla Shadra adalah penganut pemikiran metafisika esensialis Suhrawardi, tetapi dengan pengalaman spiritual yang dikombinasikan dengan visi intelektualnya, ia menciptakan apa yang disebut Corbin sebagai “Revolusi besar di bidang metafisika”, dengan memformulasikan metafisika eksistensialis, menggantikan metafisika esensialis yang dianut sebelumnya.
Dalam filsafat hikmah-nya Mulla kita mengenal tentang konsep wujud yaitu: ketunggalan wujud (wahdah al-wujud), kemendasaran wujud (ashalah al-wujud), dan ambiguitas wujud (tasykik al-wujud).[10]
Mulla Shadra menyatakan bahwa yang riil adalah wujud, sementara esensi adalah abstraksi mental semata-mata. Baginya wujud bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh realitas, namun ia adalah realitas itu sendiri. Sebab sifat wujud yang paling fundamental yakni simple atau basit berkarakter “menebar” ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai eksisten atau maujud. Dan eksisten atau mahiyah yang ada di hadapan kita tidak lebih dari pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan wujud itu sendiri.[11]
Perdebatan kaum penganut alam idea dan alam realitas sampai  pada pengikut Suhrawardi dan Mulla Shadra. Perdebatan yang sangat sengit terjadi antara kaum pengikut ashalah al-Mahiyah yang diwakili oleh Suhrawardi dengan pengikut ashalah al-wujud yang diwakili oleh Mulla Shadra. Suhrawardi berargumen bahwa wujud, karena kedudukannya sebagai sifat umum segala yang ada, yaitu konsep yang paling umum hanyalah memiliki realitas sebagai konsep sekunder yang tidak mempuanyai hubungan dengan realitas yang ada. Ia hanyalah konsep dan abtraksi mental semata-mata. Jika, kata suhrawardi selanjutnya, kita menganggap bahwa wujud sebagai sifat esensi yang sebenarnya, maka esensi, agar memiliki sifat ini, harus ada sebelum wujud. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka wujud itu sendiri akan memerlukan wujud lain yang bisa memberinya eksistensi; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinite.[12]
Demikianlah pembahasan seputar masalah wujud dalam filsafat Shadra. Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa ajaran metafisika Mulla Shadra sebenarnya bukan hanya bisa dipahami melalui prinsip-prinsip ini, namun juga dengan mengetahui hubungan–hubungan yang terjalin di antara mereka.[13] Wujud tidak hanya satu, melainkan juga bergradasi. Selanjutnya wujud tidak hanya bergradasi melainkan juga sejati dan mendasar yang memberikan kesejatian kepada esensi.
Pemahaman Iqbal tentang ketuhanan/metafisika mengalami tiga tahap perkembangan, sesuai dengan pengalaman yang dilaluinya dari tahap pencarian sampai ke tahap kematangan. Ketiga tahap itu adalah:
Tahap Pertama: dari tahun 1901 sampai tahun 1908. pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai mistikus-panteistik. Tahap Kedua: dari tahun 1908 sampai 1920. pada tahap ini, Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya, serta kausalitas-akhirnya. Tahap Ketiga: berlangsung dari tahun 1920 sampai 1938. jika pada tahap kedua merupakan pertumbuhan, maka pada tahapan ketiga merupakan pengembangan menuju kematangan konsepsi Iqbal tentang ketuhanan.
M. Iqbal menyatakan bahwa ada dua aspek hubungan manusia dengan penciptanya:
1.Pencipta Sebagai Tuhan
Dalam konteks ini manusia dengan “nalar” nya melihat dirinya, alam semesta dan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai ciptaan tuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui tangan-tangan manusia, jin, malaikat, iblis dan sebagainya.
Dalam konsep ini tuhan manusia baik disadari atau tidak adalah tuhan berhala dalam nalar manusia, dalam islam disebut syirk tersembunyi.
2.Pencipta Sebagai Tenaga Pembimbing
Dalam konteks ini manusia dengan “kesadaran” nya melihat dirinya sebagai khalifah / wakil tuhan dimuka bumi dan dengan melalui kemampuan-kemampuannya (panca indranya) menciptakan dirinya, alam semesta dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses penciptaan tuhan
Dalam konsep inilah yang dimaksud dengan manunggaling kawulo gusti, Syeh Siti Jenar atau Ana al-Haq, al-Hallaj atau wahdatul wujud, Ibnu Arabi.
Kenabian Dalam Perspektif
Dalam literatur yang pnulis cari dan temukan, belum menemukan pemikiran ketiga tokoh ini tentang kenabian. Namun jika dilihat dari bangunan epistemologi-nya, bisa difahami bahwa mereka meyakini kenabian, kenapa? Karena salah satu basis berpikir dalam memperoleh ilmu pengetahuan adalah al-Quran dan Hadits, dan kedua sumber hukum tersebut dibawa oleh nabi.
Moral Dalam Perspektif
Ubahlah sikapmu terhadap alam semesta, dan gunakan garis perilaku yang diniscayakan oleh perubahan itu, secara singkat sarana-sarana pewujud ini adalah pengetahuan dan tindakan.[14]
Adapun pengaruh Mulla Shadra dapat dilihat dengan banyaknya murid dan penerus pemikirannya yang tampak pada kesinambungan gerakan Isyraqi Syi’ah di Persia.
Ego-insani, menurut Iqbal, menyatakan dirinya sendiri sebagai sesuatu kesatuan diri yang kita namakan keadaan-keadaan mental. Keadaan-keadaan mental ini tidak berdiri sendiri-sendiri sebagai suatu isolasi satu sama lain, tetapi jalin berjalin-jalin dan memberi arti satu sama lain.
Ada dua cara untuk memahami manusia, menurut Iqbal. Pertama, cara intelektual, dan kedua, cara vital. Cara intelektual memahami dunia sebagai suatu sistem tegar tentang sebab akibat. Cara vital, menerima mutlak adanya keharusan yang tidak dapat dihindarkan dari kehidupan, yakni kehidupan dipandang sebagai suatu keseluruhan; cara vital ini dinamakan ‘Iman’.

BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan yang dikemukakan diatas, banyak ilmu yang sudah kita dapat, gambaran kecerdasan ketiga tokoh ini nampak dari pemikiran yang mereka tuangkan, khususnya tentang, epistemologi, metiafaisika, kenabian dan moral.
Dalam konsepsi Suhrawardi, tasawuf tidak lagi sebagai pengetahuan yang amali semata, namun telah dibawa dalam perdebatan filosofis, sehingga mempunyai basis epistimologi yang kokoh.
Suhrawardi telah berupaya memberikan sintesa-sintesa yang sangat lengkap mengenai konsep keterhubungan manusia dengan Tuhan. Ia telah memberikan konstribusi yang sempurna dalam perkembangan tasawuf Islam.
Di dalam bangunan Filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah Shadra, tergambar jelas Mulla Sadrā melakukan harmonisasi semua elemen filsafat sebelumnya sehingga membentuk warna baru yang masing-masing kesatuan saling terkait dan mendukung satu sama lain. Kita kemudian dapat menemukan posisi filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah yang jelas-jelas memunculkan sebuah warna baru diantara aliran filsafat yang ada.
Dari pemaparan di atas juga, kita dapat mengatahui bagaimana latar belakang keluarga yang telah melahirkan penyair sekaliber Iqbal, kita dapat menyimak sekilas tentang perjalanan kehidupan Iqbal sampai bisa menjadi seorang penyair, dengan mengetahui hal tersebut kita berharap bisa mengikuti jejak langkahnya. Ukiran pena Iqbal sangat besar pengaruhnya dalam khazanah pemikiran Islam. Iqbal tak hanya di kenal di dunia barat namun fenomenal juga di dunia timur. Namun nampaknya, sekilas perkenalan kita dengan Iqbal belum cukup tanpa mendalami syair-syair yang telah Iqbal ciptakan.
Pemikiran yang tertuang disini hanyalah sebagian kecil dari kontribusi mereka, jika kita menggalinya lebih dalam lagi, maka akan kita temukan butiran-butiran mutiara pemikiran dari mereka.
Wallahu A’lam.

REFERENSI
Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003
Majalah Percikan Iman No.2 Tahun II Februari 2001
Mustofa, A., Filsafat Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997
Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1996
Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005
Nur, Syaifan, Mulla Shadra: Pendiri Aliran Mazhab al-Hikmah al-Muta’aliyah, Jakarta: Penerbit TERAJU, 2003
Rahman, Fazlur, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka
Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan, 2003
www.google.com

[1] Makalah ini dibuat sebagai tugas pada mata kuliah Filsafat Islam, menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) di semester tujuh PAI FITK UIN Jakarta. [2] www.google.com
[3] Drs. H. A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), hal 248
[4] Dr. Hasyimsyah Nasution, MA., Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), Cet ke-4, hal 145
[5] Dr. Syaifan Nur, Mulla Shadra; Pendiri Aliran Mazhab al-Hikmah al-Muta’aliyah, (Jakarta: Penerbit TERAJU, 2003), hal 13
[6] www.google.com
[7] Pertemuan-pertemuan dimana para penyair membacakan sajak-sajaknya
[8] Majalah Percikan Iman No.2 Tahun II Februari 2001
[9] Prof. Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996) hal 194
[10] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 918
[11] Ibid, hal. 44. Dan Hussein Shahab, Filsafat Wujud dalam Jurnal al-Huda Vol. III. No. 1. 2003
[12] Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, Bandung: Pustaka. Hal. 35
[13] Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman ed. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. hal. 918
[14] www.google.com
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 komentar:

Poskan Komentar